Berapa Usia ‘Aisyah ra. saat Menikah?

Berita Syekh Puji menikahi gadis berusia 12 tahun cukup membuat resah banyak kalangan. Salah satu alasan dia adalah karena mencontoh Rasulullah saw. yang menikahi ‘Aisyah ra. ketika berusia 6 tahun. Jika Rasulullah saw. menikahi ‘Aisyah ra. yang berusia 6 tahun, tidak bersalah dong kalau dirinya menikahi gadis yang berusia 12 tahun.

Tulisan ini mencoba meluruskan riwayat pernikahan Rasulullah saw. dengan ‘Aisyah ra. yang telah berabad-abad lamanya diyakini secara tidak rasional. Efeknya, orientalis Barat pun memanfaatkan celah argumen data pernikahan ini sebagai alat tuduh terhadap Rasulullah saw. dengan menganggapnya fedofilia. Mari kita buktikan. Secara keseluruhan, data-data yang dipaparkan tulisan ini diambil dari hasil riset Dr. M. Syafii Antonio dalam buku Muhammad saw. The Super Leader Super Manager (2007).

Read More

Belajar dari Raihanah

Bang Aswi ~ Raihanah binti Zaid memiliki wajah dan kepribadian menarik, hingga Rasulullah saw. pun, menyukainya. Raihanah adalah seorang yang qana’ah (selalu merasa cukup dengan apapun yang ada), dia tidak banyak meminta ataupun menuntut kepada Rasulullah saw. Keinginan Raihanah hanyalah ingin berbakti sepenuhnya kepada Rasul, dalam dirinya telah tertanam sikap untuk selalu naafi’un lighairihi (bermanfaat bagi orang lain), khususnya orang terdekat dalam dirinya, yaitu Rasulullah saw.

Read More

Belajar dari Mariyah

Bang Aswi ~ Mariyah binti Syam’un Al Qibthiyah adalah seorang wanita yang memiliki sifat hanif (lurus) sehingga ia mudah menerima kebenaran ajaran Islam. Ketika dalam perjalanan dari Iskandariyah menuju Madinah, Mariyah dan Sirin (sepupunya) menyaksikan bagaimana akhlakul karimah (pribadi mulia) Hathib bin Abu Balta’ah r.a. yang menjadi duta dakwah Rasul kepada Raja Al Muqauqis.

Ia sungguh tertarik dengan perlakuan Hathib yang begitu menghormati dan memuliakannya. Sehingga dari perlakuan Hathib yang baik itu, Mariyah berpikir lebih tentang pemimpin Hathib di Madinah, dan ajaran hidup yang diajarkannya kepada Hathib dan para pengikutnya yang lain. Tentunya, pemimpin Hathib dan ajaran hidup yang diajarkannya itu benar-benar luar biasa. Dari interaksi Mariyah dengan Hathib sepanjang perjalanan menuju Madinah itulah, Mariyah bersama Sirin mengikrarkan dua kalimah syahadat di hadapan Hathib bin Abu Balta’ah r.a.

Read More

Belajar dari Maimunah

Bang Aswi ~ Maimunah binti Al Harits adalah seorang wanita yang memiliki sikap jaddiyyah (serius, bersungguh-sungguh), ia selalu serius dan bersungguh-sungguh dalam menginginkan sesuatu atau mengerjakan suatu aktivitas. Ia sangat tidak menyukai sikap tulul ‘amal (panjang angan-angan). Sikapnya itu, ia buktikan saat menyatakan keinginannya untuk berislam secara sempurna.

Maimunah menginginkan semua orang tahu bahwa ia telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya sejak kedatangan Kaum Muslim yang berumrah ke Makkah. Ia pun bersunguh-sungguh ketika menginginkan keislamannya makin paripurna di bawah naungan madrasah nubuwah, Maimunah menyatakan keinginannya menjadi isteri Rasulullah saw.

Read More

Belajar dari Ramlah

Bang Aswi ~ Ramlah binti Abu Sufyan atau yang dikenal dengan Ummu Habibah adalah seorang wanita yang memiliki sifat shabirin (sabar) dan tabah dalam menghadapi ujian Allah Swt. Ujian demi ujian yang datang kepadanya, justeru dihadapinya dengan tabah. Baginya, ujian akan semakin meneguhkan keyakinan dan keimanannya di jalan Allah Swt. Ketika keimanannya diusik oleh ayahanda dan keluarganya, yang menginginkan dirinya kembali pada kekafiran, ia tetap teguh mempertahankan keimanannya.

Ia tidak menyesali diri berada dalam barisan Kaum Muslim yang dimusuhi musyrikin Quraisy. Ia tetap sabar menjalaninya dengan penuh keimanan. Demikian pula ketika Ummu Habibah harus berhijrah ke Habasyah, meninggalkan keluarganya jauh dari tanah kelahiran dan kaumnya, ia tetap sabar menjalaninya. Bahkan, ketika suaminya murtad dari ajaran Islam, ia berusaha mengajaknya kembali. Ia pun harus bersabar, ketika suaminya itu tetap pada pendiriannya.

Read More